Mud Biscuit – Thx GOD we still have a better live


===================================================================

Your donations will help us to grow this site. Thank You :D


Paypal Donation
===================================================================

Click here, to translate this post to English. (Powered by http://translate.google.com/)

[Youtube="http://www.youtube.com/watch?v=TW2Uoigo2z0"]

Haiti – Meskipun mengetahui lumpur mengandungi toksin atau parasit yang dapat membawa maut, namun masyarakat miskin di Haiti terpaksa meneruskan kehidupan dengan tanah lembek yang dikeringkan itu.

biskuit lumpur

Adonan yang merupakan campuran dari lumpur, garam dan lemak sayuran dibentuk bulat.

_
Mud biscuit 02Di Port-Au-Prince, Haiti, penduduknya tergolong miskin. Apakah santapan tengah hari mereka? Ya, biskuit lumpur. Bukan kerana rasanya yang enak tetapi sebab terpaksa. Inilah yang dilalui oleh Charlene Dumas dan keluarganya yang merupakan sebahagian penduduk di Port-Au-Prince. Dengan kenaikan harga makanan, masyarakat paling miskin di Haiti tidak mampu membeli sepiring nasi untuk mengisi perut yang lapar dengan makanan. Keadaan ini memaksa mereka mengambil langkah yang mungkin anda tidak dapat bayangkan semata-mata untuk mengganjal perut. Charlene, 16, bersama bayi lelakinya yang baru berusia sebulan, terpaksa bergantung kepada sejenis penawar kelaparan tradisional masyarakat Haiti iaitu biskuit yang diperbuat daripada lumpur kuning yang dikeringkan. “Apabila ibu saya tidak memasak, saya terpaksa makan biskuit ini tiga kali sehari,” kata Charlene. Anaknya, Woodson yang berbaring statik di atas pahanya kelihatan lebih kurus berbanding beratnya yang mencecah enam paun sewaktu lahir. “Apabila saya menyusukan Woodson, bayi saya adakalanya kelihatan tidak selera kerana perutnya memulas-mulas, ” katanya.

Mud biscuit 03

Di pasar kawasan orang miskin La Saline, dua piring nasi dijual pada harga 60 sen. Harga tersebut telah dinaikkan sebanyak 10 sen sejak bulan Disember lalu.
Harga kacang, susu dan buah-buahan juga meningkat pada kadar yang sama. Malah, harga untuk tanah liat yang boleh dimakan turut mengalami peningkatan yang hampir mencecah RM 4.85 dalam tempo beberapa tahun kebelakangan ini.

Mud biscuit 04

Menurut pembuat biskuit, harga lumpur untuk menghasilkan 100 keping biskuit kini bernilai sekitar RM16.
Itu pun pada harga sekitar lima sen sekeping, biskuit lumpur masih menjadi rebutan. Kira-kira 80 persen warga Haiti menjalani kehidupan kurang daripada RM6.40 sehari perolehan pendapatan.
Truk-truk pedagang akan membawa bertong-tong lumpur ke pasar La Saline dari pusat bandar Hinche dan akan kelihatan puluhan wanita berebut membeli bahan tersebut untuk diproses menjadi biskuit.
Dengan mengangkat beberapa tong lumpur dan air sambil menaiki anak tangga menuju kebagian atap sebuah bekas penjara, batu-batuan dan kerikil lumpur dipisahkan dengan sehelai kertas sebelum bahan-bahan tadi diolah bersama sedikit garam.
Adonan kemudian dibentuk menjadi biskuit bulat dan dibiarkan kering di bawah sinaran matahari terik. Biskuit-biskuit yang telah siap dimasukkan ke dalam tong untuk dijual di pasar atau tepi-tepi jalanan.
Seorang wartawan yang mencoba sekeping biskuit tersebut mendapati ia memiliki ketebalan dan licin, dan jika terkena lidah, ia mampu menyerap semua lembaban dalam mulut.
Lumpur mengandung toksin atau parasit yang dapat membawa maut. Namun, menurut seorang profesor imunologi dari Universiti State Colorado yang mengkaji pemakanan lumpur, Gerald N. Callahan menjelaskan, lumpur juga berpotensi memperkuatkan tahap imun janin dalam rahim terhadap beberapa jenis penyakit.

Mud biscuit 05

Para doktor di Haiti berkata, mereka yang bergantung kepada biskut-biskut tersebut untuk makanan sebenarnya sangat beresiko terhadap malnutrisi.
“jika saya melihat orang makan biskuit-biskuit itu saya akan melarangnya, ” kata Dr. Gabriel Thimothee, seorang pengarah eksekutif di Kementerian Kesihatan Haiti …..
Seorang ibu, Marie Noel, 40, yang menjual biskuit-biskuit tersebut di pasar menampung kehidupan tujuh orang anaknya berkata, seluruh keluarganya bergantung kepada biskuit ini.
“Saya harap suatu hari nanti, saya mempunyai makanan yang mencukupi dan tidak lagi perlu makan benda-benda ini. Saya tahu ini tidak menyihatkan, ” katanya. – AP

Related Post: [Link]

Please also read:

Tuban – Indonesian Village Snacks On Soil For Better Health…, here.

9 Responses

  1. Sooooooo amazing post, i love some words so much and may i quote a few of them on my blog? Also i have e-mailed you regarding would it be feasible for us to exchange our links, hope hearing from you soon.

  2. Hey, I tried to e-mail you concerning this post that i have some inquires, but can’t seem to reach you. Please email me when get a moment. Thanks.

  3. I just couldnt leave your website prior to saying that I definitely liked the quality details you offer to your visitors. Would be back frequently to check up on new stuff in you article!

  4. I’ve gone through your blog. I am pleased I saw it again. Keep it up

  5. Does your website have a contact page? I’m having a tough time locating it but, I’d like to shoot you an email. I’ve got some suggestions for your blog you might be interested in hearing. Either way, great blog and I look forward to seeing it improve over time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.